Rational emotive therapy memandang
manusia dilahirkan dengan potensi rasional dan irasional. Tokoh utama rational
emotive therapy (RET) adalah Albert Ellis. Seseorang berperilaku tertentu
karena adanya percaya harus bertindak dalam cara itu. Sedangkan gangguan
emosional terletak pada keyakinan irasional. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa
Rational Emotive Therapy merupakan therapy yang berupaya untuk merasionalkan
believe yang irasional.
Menurut Albert Ellis (dalam modul
Psikologi Universitas Gunadarma), secara alamiah setiap manusia adalah
irasional, mengalahkan dirinya sendiri, sehingga perlu pemikiran dengan
cara-cara lain. Beliau juga menyatakan bahwa secara alamiah manusia dapat
menjadi “helpful” dan “loving” sepanjang mereka tidak dapat berpikir rasional.
Dalam pandangan RET, kecemasan bukanlah irasional, tetapi sebagai
ketidaktepatan perasaan (inaproproate feeling) yang terbangun secara luas dari
ide-ide rasional. Dijelaskan oleh Burk dan Steffler (1983) bahwa ketepatan
perasaan umumnya berisi berbagai jenis perasaan yang muncul ketika terjadi
halangan terhadap kebutuhan, keinginan, atau harapan-harapannya. Ketepatan
emosi positif termasuk cinta, kebahagiaan, kesenangan, dan rasa ingin tahu.
Ketepatan emosi negative dapat berupa duka cita, penyesalan, frustasi,
gangguan, kejengkelan, tidak puas, dan sifat lekas marah. Emosi negative
disebut “sesuai” atau “tepat” karena selalu membantu orang untuk merubah
kondisi-kondisi yang dialami ke arah yang lebih baik atau lebih obyektif.
Sedangkan, ketidaktepatan emosi selalu berisi perasaan-perasaan seperti
tertekan, permusuhan, putus asa, kecemasan, dan perasaan-perasaan tidak
berharga. Disebut tidak tepat, karena secara normal tidak membantu manusia
untuk merubah kondisi-kondisi tersebut, tetapi sering kali membantu mereka pada
kondisi yang lebih buruk.
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu,
yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka
pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
- Antecedent event
(A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap
orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi
masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
- Belief (B) yaitu
keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu
peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang
rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional
(irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara
berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana
itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan
ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional,
dan keran itu tidak produktif.
- Emotional
consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam
hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan
akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara
dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus
ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan
irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis
positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian
karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”.
Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami
depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan
kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang
negatif terhadap diri sendiri. Walaupun
tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama
keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan
tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang
muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat
dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Tujuan Konseling
Tujuan RET adalah mengajarkan klien
untuk berpikir dan secara personal lebih puas dalam cara-cara merealisasikan
pilihan-pilihan antara kebencian diri dan perilaku negative, meningkat kepada
perilaku yang positif dan efisien. Tujuan lainnya, antara lain :
- Memperbaiki dan
merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan
yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan
sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan
afektif yang positif.
- Menghilangkan
gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut,
rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah.
Proses dan Teknik Konseling
Dalam proses konseling, klien
diharapkan sepenuhnya dapat mencapai tiga pemahaman :
1.
peristiwa-peristiwa sebelumnya yang menyebabkan perilakunya neurotic,
2.
alasan-alasan yang menjadikannya mempertahankan ketidakbahagiaannya dan
mengulanginya,
3.
klien dapat mengalahkan gangguan emosinya dengan secara konsisten observasi,
menanyakan, dan menemukan system keyakinan dirinya.
Pendekatan
konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut:
Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan
membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan
tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat
pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang
menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan
sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri
melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model
tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah
lakunya sendiri yang negatif.
Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang
lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun
hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan
keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang
positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan
menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru
pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model
sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan
menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model
sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
Teknik-teknik Kognitif
a. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah
untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu
yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang
diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan
perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan
tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru,
mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor
dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik
ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab,
kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri,
pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui
bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik
latihan asertif adalah :
(a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai
hal yang berhubungan dengan emosinya;
(b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak
asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain;
(c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan
kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah
laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
Sumber
:
Modul
Psikologi Konseling Universitas Gunadarma 3PA02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar