Bella Belle (Yoon-Bi)

Minggu, 05 Mei 2013

BEHAVIOR THERAPY


Terapi ini lebih menekankan pada perilaku. Menurut pandangan behavioristik, apa yang ada pada diri kita hari ini menunjukkan hasil pengalaman dan lingkungan. Konseling (terapi) behavior dikembangkan sejak 1950-an dan 1960-an, pemisahan diri yang radikal dari Psikoanalisis yang berlaku saat itu. Banyak perbedaan dengan konseling lain karena pengguna pembiasaan klasik (classical conditioning) dan pembiasaan operan (operant conditioning) terhadap penanganan berbagai perilaku bermasalah. Konseling behavior Kontemporer bengkit secara serentak di AS, Afsel, dan Inggris th 1950-an. Konseling Behaviora terus berkembang meskipun banyak kecaman dari konseling tradisonal (psiko analitik). Pada tahun 1960-an Albert Bandura mengembangkan teori belajar social (social learning theory) yang menggabungkan pembiasaan klasik dan pembiasaan operan dengan belajar observasional.  Dalam hal ini kognitif menjadi focus yang sah dalam konseling behavioral. Tahun 1970-an konseling behavior muncul sebagai kekuatan utama dan psikologi dan memiliki pengaruh yang berarti dalam pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan kerja social. Teknik-teknik behavioral dikembangkan dan diperluas yang juga diaplikasikan pada bidang-bidang bisnis, industry, dan pengasuhan anak. Tahun 1980-an merupakan pencarian wawasan baru dalam konsep dan metode yang bergerakjauh di luar teori belajar tradisonal. Adanya perhatian yang meningkat terhadap peran emosi dalam perubahan terapeutik dan peran factor-faktor biologis dalam gangguan psikologis. Perkembangan yang menonjol ialah timbulnya konseling kognitif behavior (cognitive- behavior Therapy/counseling) secara berkelanjutan sebagai kekuatan dan aplikasi teknik-teknik behavioral terhadap pencegahan dan penanganan gangguan medis. Tahun 1990, assosiasi pengembangan terapi behavior mengklaim dirinya memiliki 4300 anggota. Ada 50 jurnal dan memiliki cabang di seluruh dunia.

Adapun 4 bidang perkembangannya :

1.    Classical Conditioning
Tokoh classical conditioning adalah Ivan Pavlov yang mengilustrasikan classical conditioning melalui percobaan dengan anjing. Suatu jenis belajar dimana stimulus netral dikemukakan secara berulang dengan stimulus yang dapat menimbulkan respon tertentu secara naluriah, sehingga stimulus netral tersebut akhirnya menimbulkan respon yang diharapkan (respond conditioning).

2.    Operant Conditioning
Tokoh operant conditioning adalah B. F. Skinner. Jenis belajar dimana perilaku semata-mata dipengaruhi oleh akibat yang menyertainya. Perubahan tingkah laku terjadi karena adanya penguatan dan hukuman, dimana tingkah laku yang memperoleh ganjaran dipelihara dan dikembangkan, serta tingkah laku yang mendapat hukuman akan dihentikan. Teori operant conditioning menghasilkan tiga prinsip belajar :
a. Penguatan (reinforsment) : stimulus yang dapat meningkatkan terjadinya / berulangnya respon individu. Penguatan terdiri dari penguatan positif dan penguatan negative. Jadwal penguatan, yaitu terus-menerus / kontinu dan sewaktu-waktu / intermiten.
b.    Extinction (ekstinsi) : menghilangnya perilaku yang telah dipelajari karena hukuman / tidak mendapat penguatan.
c.    Hukuman (punishment) : proses yang dapat memperlemah atau menghentikan respons dengan cara memberikan stimulus yang tidak diinginkan.

3.    Social Learning Theory
Social Learning Theory dikembangkan oleh Bandura, bersifat interaksional, interdesipliner, dan multimodal. Perilaku dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa stimulus, pengaruh eksternal, dan proses mediasi kognitif. Perilaku dibentuk berdasarkan atas pengamatan perilaku model.

4.    Cognitive-Behavior Counseling
Cognitive-Behavior Counseling mekankan perilaku yg tampak, konktret, spesifik, dapat didefinisi secara operasional, dapat diamati dan diukur. Konseling behavior mengembangkan teori kepribadian. Tingkah laku itu merupakan hasil belajar baik tingkah laku yang normal maupun tingkah laku yang malasuai (berlebihan).

  • Proses Terapi    :
Prosedur treatment dirumuskan dengan spesifik.

  • Tujuan                 :
>> Mengubah perilaku maladaptive ke cara yang lebih adaptif.
·         Penghapusan PL maladaptive
·         Memperoleh PL baru
·         Memperkuat + mempertahankan PL yg diinginkan
>> Harus diuraikan dengan rinci dan spesifik.
>> Diinginkan klien serta didiskusikan dengan terapis.


  • Hasil terapi          :
Harus dapat dievaluasi secara objectif (sesuai dengan tujuan).

  • Peran terapi        : direktif, aktif
>> Sebagai guru / trainer, pengarah
>> Pemberi dan mengontrol reinforcem
>> Sebagai model → imitasi


  • Sifat                      :
Mekanis, manipulatif, tidak terlalu menekankan hubungan interpersonal.


  • Teknik-teknik      :
1. Desensitisasi sistematis
Teknik spesifik yang digunakan untuk menghilangkan kecemasan dengan kondisi rileks saat berhadapan dengan situasi yang menimbulkan kecemasan yang bertambah secara bertahap.

2. Teknik relaksasi
Teknik yang digunakan untuk membantu konseli mengurangi ketegangan fisik dan mental dengan latihan pelemasan otot-ototnya dan pembayangan situasi yang menyenangkan saat pelemasan otot-ototnya, sehingga tercapai kondisi rileks baik fisik dan mentalnya.

3. Teknik Flooding
Teknik yang digunakan konselor untuk membantu konseli mengatasi kecemasan dan ketakutan terhadap sesuatu hal dengan cara menghadapkan konseli tersebut dengan siuasi yang menimbulkan kecemasan tersebut secara berulang-ulang, sehingga berkurang kecamasannya terhadap situasi tersebut.

4. Reinforcement Technique
Teknik yang digunakan konselor untuk membantu meningkatkan perilaku yang dikehendaki dengan cara memberikan penguatan terhadap perilaku tersebut.

5. Modeling
Teknik untuk memfasilitasi perubahan tingkah laku konseli dengan menggunakan model.

6. Cognitive Restructuring
Teknik yang menekankan pengubahan pola pikiran, penalaran, sikap konseli yang tidak rasional menjadi rasional dan logis.

7. Assertive Training
Teknik membantu konseli mengekspresikan perasaan dan pikiran yang ditekan terhadap orang lain secara lugas tanpa agresif.

8. Self Management
Teknik yang dirancang untuk membantu konseli mengendalikan dan mengubah perilaku sendiri melalui pantau diri, kendali diri, dan ganjar diri.

9. Behavioral rehearsal
Teknik penggunaan pengulangan atau latihan dengan tujuan agar konseli belajar keterampilan antar pribadi yang efektif atau perilaku yang layak.

10. Kontrak
Suatu kesepakatan tertulis atau lisan antara konselor dan konseli sebagai teknik untuk memfasilitasi pencapaian tujuan konseling. Teknik ini memberikan batasan, motivasi, insentif bagi pelaksanaan kontrak, dan tugas-tugas yang ditetapkan bagi konseli untuk dilaksanakan antar pertemuan konseli.

11. Pekerjaan Rumah
Teknik yang digunakan dengan cara memberikan tugas / aktivitas yang dirancang agar dilakukan konseli antar pertemuan konseling seperti : mencoba perilaku baru, meniru perilaku tertentu, atau membaca bahan bacaan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya.

12. Role Playing
Teknik yang digunakan konselor untuk membantu konseli mencapai tujuan yang diharapkan dengan permainan peran. Konseli memerankan perilaku tertentu yang ingin dikuasainya sehingga dapat tujuan yang diharapkan.


  • Proses Konseling 
1. Pembinaan hubungan konseling
Menciptakan hubungan baik dengan konseli melalui komunikasi melalui komunikasi penerimaan, pemahaman, penghargaan, dan ketulusan sehingga timbul rasa percaya konseli terhadap konselor dan konseli dan mau terlibat aktif dalam proses konseling.

2. Pembahasan topik netral untuk segera berinteraksi dengan konseli dan meningkatkan keberhargaan konseli dengan konseli termotivasi melibatkan dirinya dalam konseling dan mempelajari perilaku baru bagi pencapaian tujuan yang diharapkan Penetapan masalah dan tujuan konseling.
>>  Menggali informasi tentang masalah konseli.
>>    Menentukan hakekat masalah konseli.
>>  Menentukan data dasar masalah konseling: frekwensi, lamanya, intensitasnya.
>> Menetapkan tujuan konseling secara spesifik sesuai dengan karakteristik      masalah dan kondisi konseli.

3. Pemilihan teknik konseling
Penentuan teknik yang sesuai dengan tujuan dan masalah yang dialami konseli.

4. Penilaian keberhasilan
Pembandingan antara perilaku konseli setelah konseling dengan data dasar sebelum konseling.

5. Pengakhiran dan tindak lanjut
Jika tujuan konseling tercapai maka layanan konseling diakhiri dan kemudian diikuti perkembangannya.

  •   Kelebihan :
1.    Mengembangkan konseling sebagai ilmu karena mengundang penelitian dan menerapkan ilmu pengetahuan kepada proses koseling.
2.    Mengembangkan perilaku yang spesifik sebagai hasil konseling yang dapat diukur.
3.    Penekanan bahwa konseling hendaknya memusatkan pada perilaku sekarang dan bukan pada perilaku yang terjadi dimasa datang.




Sumber          :


http://hariadimemed.blogspot.com/2011/06/behavior-terapi-dalam-konseling.html?m=1