Bella Belle (Yoon-Bi)

Minggu, 31 Maret 2013

Terapi Humanistik Eksistensial


            Psikologi humanistik memiliki perbedaan dengan tiga aliran utama psikologi lainnya, diawali dari tokoh-tokoh utama psikologi humanistik, yaitu Maslow yang mengemukakan teori hierarki kebutuhan manusia, Rogers yang memperkenalkan client-centered therapy, dan Rollo May yang mendalami pemanfaatan filsafat eksistensialisme dan fenomenologi pada kajian masalah-masalah psikologi.
            Psikologi humanistik berorientasi pada nilai-nilai manusia. Maslow dan Rogers, misalnya berpandangan bahwa perkembangan manusia mengarah pada aktualisasi diri. Karena itu, menurut mereka pada dasarnya manusia ini mempunyai kekuatan intrinsik yang pada hakikatnya mengarahkan dia untuk menjadi baik. Namun pandangan ini ditentang oleh beberapa tokoh psikologi humanistik yang menyatakan sebaliknya.
            Bebetapa istilah lain dari Kekuatan Ketiga yaitu : 'self-awareness movement' (karena kesadaran diri menjadi salah satu kunci dalam psikologi humanistik), 'human potential movement' (karena ditujukan untuk selalu lebih memanfaatkan poteni manusia sepenuhnya), 'personal growth' (karena didasarkan pada keyakinan bahwa manusia dapat berkembang dari batas yang ia yakini sebelumnya, jika ia memperoleh kesempatan yang tepat dan diberi keleluasaan pengambangan diri). Hampir sebagian besar gagasan psikologi humanistik sejalan dengan gagasan-gagasan psikologi eksistensial, sebab psikologi humanistik sedikit banyak menerima pengaruh eksistensialisme (Koeswara, 1987).

TEKNIK-TEKNIK TERAPIS HUMANISTIK
         Teknik terapi humanistik merupakan teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi ahli terapi yang minimal. Sehingga, terapi humanistik tidak hanya diperuntukkan untuk menangani orang-orang yang mengalami gangguan emosional atau penderita neurotik atau psikotik. Akan tetapi, terapi humanistik juga dilakukan untuk orang-orang yang “sehat” atau populasi normal, yang menginginkan pertumbuhan pribadi yang lebih penuh.
         
Jenis-jenis terapi humanistic, yaitu :
1.         Person-centered Therapy (Carl R. Rogers)
2.         Gestalt Therapy (Fritz Perls)
3.         Transactional Analysis (Eric Berne)
4.         Rational-Emotive Therapy (Albert Ellis)
5.         Terapi kelompok dengan pendekatan humanistik
6.         Logotherapy (Viktor Frankl), dan
7.        Existential Analysis (Rolloy May, James F. T. Bugental)
Teknik terapi eksistensial dan logotheraphy sulit sekali dipisahkan karena keduanya didasarkan pada aliran filsafat yang sama, yaitu eksistensialisme dan keduanya menggunakan pendekatan yang sama, yaitu humanistik.

·         Konsep Dasar Terapi Eksistensial
Konsep dasar terapi eksistensial adalah mengubah konsep berpikir, dari kondisi merasa lemah dan tidak berdaya menjadi lebih bertanggung jawab dan mampu mengontrol kehidupannya sendiri, serta menemukan jati dirinya. Sehingga menemukan kesadaran diri sendiri yang dapat mengeliminasi perasaan tidak berarti (not being). Sedangkan perasaan tidak berarti ini, biasanya muncul dalam kondisi merasa tidak berdaya , rasa bersalah ,putus asa, dan lain-lain. Konsep teori eksistensialis bukan merupakan sistem terapi yang komprehensif. Eksistensialis memandang proses terapi dari sudut pandang suatu paradigma untuk memahami dan mengerti kondisi individu yang sedang bermasalah. Oleh karena itu, terapi eksistensialis memandang klien sebagai manusia bukan sekadar aspek pola perilaku beserta mekanismenya.

·         Proses Terapi 
Tahapan terapi eksistensialis dilakukan dengan memperhatikan beberapa langkah sebagai berikut :
∆     Kesadaran akan tanggung jawab pribadi
Terapi berupaya untuk mengembangkan kemampuan klien untuk menggali perasaan dan perilakunya sendiri. Jika klien mengatakan “saya tidak menyadari” terapis mengomentari “lalu kesadaran itu milik siapa?” dan memberikan pandangan bahwasanya tanggung jawab merupakan bagian dari kebebasan. Berdasarkan tanggung jawab yang dimiliki, individu memiliki kebebasan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya.
∆     Mengenali keinginan klien
Klien perlu belajar bahwa, keinginan memberikan makna dalam kehidupan. Keinginan merupakan bagian kehidupan yang harus diwujudkan, seperti hubungan yang mesra , cinta kasih dapat terwujud karena adanya keinginan.
∆     Pengambilan keputusan
Terapis perlu membantu klien untuk belajar membuat keputusan. Strategi yang penting adalah membuat individu belajar mengenai kesiapan individu dalam menerima segala kemungkinan.

Jadi , dapat dijelaskan bahwa prinsip-prinsip psikologi humanistik, yaitu :
∆    mempunyai orientasi nilai yang berpegang pada pandangan optimistis dan konstruktif tentang manusia dan kapasitas dasar mereka untuk dapat menentukan diri sendiri (self-determining).
∆    Psikologi Humanistik didasari oleh keyakinan bahwa kekuatan niat (intentionality) dan nilai-nilai etis merupakan kekuatan-kekuatan psikologis yang penting, sebagai bagian dari penentu dasar perilaku manusia. Karena itu, penekanan pada kebebasan individual harus diimbangi dengan pengakuan terhadap kesaling-tergantungan (interdependensi) antara individu yang satu dengan yang lain, dan saling tanggung jawab satu sama lain, tanggung jawab terhadap masyarakat dan kebudayaan, dan tanggung jawab terhadap masa depan. Sehingga, praktik terapi humanistik selalu diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kekuatan pilihan pribadi, namun tetap memperhatikan keefektifan kelompok-kelompok sosial.
         Adapun tujuan utama terapi humanistik adalah membawa individu untuk mengenali dorongan alamiah (innate tendency) untuk meningkatkan dirinya agar mengarah pada pertumbuhan (growth), kematangan (maturity) dan pengayaan hidup (life enrichment) dan memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.       Sikap terapis lebih penting daripada latihan teknis atau keterampilan. Dalam teori Roger, sikap terapis tersebut hendaknya ditandai dengan tiga ciri pokok, yaitu : kepekaan memahami pengalaman-pengalaman subjektif dan perasaan-perasaan klien secara akurat; penghargaan positif tanpa syarat atau unconditional positive regards; dan ketulusan (genuineness).
b.   Terapis memfasilitasi tumbuhnya suasana yang memungkinkan individu untuk mengenali dorongan terdalam di dalam dirinya yang akan mengarahkan dirinya pada sasaran yang positif dan konstruktif. Jika manusia dapat diajak untuk melihat sisi dirinya yang terdalam, ia akan mempunyai kesadaran sendiri untuk memperbaiki beberapa perilaku-perilaku yang maladaptif. Perilaku-perilaku maladaptif ini pada dasarnya hanya merupakan topeng atau penampilan semu belaka.
c.   Terapis menekankan pemahaman manusia seutuhnya (the whole person). Manusia terdiri dari beberapa lapisan. Ada dua prinsip yang dipraktikkan, yaitu: adanya tanggung jawab sepenuhnya untuk diri pribadi. Dalam hal ini, terapis hanya menjadi fasilitator dan “cermin” bagi klien; pencapaian integrasi diri yang erat kaitannya dengan konsep the whole person. Dalam hal ini, semua kekurangan dapat diperbaiki, semua ketertinggalan dapat dikejar, semua lubang kelemahan dapat ditutupi. Ini merupakan pandangan yang optimistik dari terapi humanistik yang hendak ditularkan kepada klien.
d.   Terapis menekankan terjadinya perubahan dan perkembangan. Manusia bukan makhluk statis yang menjadi budak kebutuhan-kebutuhan biologis atau terpenjara oleh pengalaman masa lalunya.
e.   Menumbuhkan motivasi yang kuat pada diri individu dalam “proses menjadi” (being process). Dalam pendekatan psikologi yang lain, manusia baru berperilaku jika ia merasakan suatu kekurangan (defisiensi) pada dirinya.


Sumber :

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. 2002. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: P.T. RajaGrafindo Persada.
Koeswara, E. 1987. Psikologi Eksistensial Suatu Pengantar. Bandung: P.T. Eresco Bandung.


http://gierevolusi.blogspot.com/2012/04/review-buku-terapi-humanistik.html?m=1

Minggu, 24 Maret 2013

Terapi Psikoanalisis


Psikoanalisis adalah suatu system dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan tersebut sebagian disadari dan sebagian lagi, bahkan sebagian besar tidak disadari.
Arlow (dalam Gunarsa, 2001) mengatakan bahwa, psikoanalisis adalah system dalam psikologi yang lengkap dan luas. Meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar, dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam kehidupan pribadi maupun kelompok.
Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud (dalam Gunarsa, 2001) bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil.


  Konsep Utama Terapi Psikoanalisis
Adapun konsep utama dari terapi psikoanalisis, yakni :
1.         Struktur Kepribadian
a.       Id
Id merupakan aspek biologis dan system yang original di dalam kepribadian, serta dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud (dalam Suryabrata, 1995) menyebutnya juga dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya (The true psychic reality). Id juga merupakan “reservoir” energy psikis yang menggerakkan ego dan super ego. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink. Fungsi Id ialah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan. Hal tersebut menjadi pedoman yang disebut Freud dengan “prinsip kenikmatan” (Suryabrata, 1995).
Id mempunyai dua cara (alat proses), yaitu :
1)      Reflex dan reaksi-reaksi otomatis, seperti : bersin, berkedip, dan lain-lain.
2)      Proses primer (primair Vorgang), seperti : orang yang lapar akan membayangkan makanan.
b.      Ego
Ego disebut juga dengan system der Bewussten-Vorbewussen. Aspek ini adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realita). Dalam berfungsinya, ego berpegang pada “prinsip kenyataan” atau “prinsip realitas” dan bereaksi dengan proses sekunder (proses berfikir realistis). Tujuan prinsip realitas tersebut ialah mencari objek yang tepat (serasi) untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme.
Ego dipandang pula sebagai aspek eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta mencari cara-cara memenuhinya.
c.       Super ego
Super ego adalah aspek sosiologi kepribadian. Superego merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya. Fungsi yang pokok dari super ego ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat (Suryabrata, 1995).

2.      Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pandangan Freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic (tidak mampu memahami dan mengontrol), mekanistik dan reduksionistik.

3.      Kesadaran dan Ketidaksadaran
a.       Konsep Ketidaksadaran
Ø  Mimpi-mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat  konflik
Ø  salah ucap / lupa → terhadap nama yang dikenal
Ø  sugesti pascahipnotik
Ø  informasi yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
Ø  informasi yang berasal dari teknik proyektif

4.      Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan yang memotifasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya untuk memperingatkan adanya ancaman bahaya, serta sebagai isyarat bagi ego bahwa apabila tidak melakukan tindakan yang tepat, bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan (dalam bahasa jawa : kuwalahan) (Suryabrata, 1995). Freud mengemukakan terdapat 3 macam kecemasan, yaitu :
1)      Kecemasan realistis, yaitu rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
2)      Kecemasan neurotic, yaitu rasa takut yang muncul ketika instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman.
Kecemasan moral, yaitu rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memiliki super ego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika mereka malakukan suatu hal yang bertentangan dengan nilai moral.

5.      Defence Mekanism (Mekanisme Pertahanan)
Defence Mekanism atau mekanisme pertahanan merupakan cara-cara ekstrem yang kadang-kadang terpaksa harus diambil oleh ego karena tekanan kecemasan ataupun ketakutan yang berlebihan untuk menghilangkan atau mereduksi tegangan (Suryabrata, 1995).
System kerja mekanisme pertahanan tergantung pada tingkat perkembangan dan derajat kecemasan yang dialami individu. Adapun macam-macam mekanisme pertahanan tersebut, yaitu :
a.       Proyeksi, merupakan suatu tindakan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara melampiaskan keluar sentimen-sentimen dan dorongan-dorongan keluar dalam dirinya.  
b.      Represi, merupakan suatu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara menekan kembali keinginannya.
c.       Regresi, merupakan suatu mekanisme dengan kembali ke masa-masa perkembangan yang telah dilewati sebelumnya, ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kecemasan perilaku yang muncul adalah kekanak-kanakkan atau mundur seperti masa lalu saat mengalami kenyamanan.
d.      Rasionalisasi, merupakan mekanisme pertahanan diri untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara memberikan alasan-alasan yang bersifat rasional, atau mencoba memaafkan diri sendiri dan kesalahan.
e.       Reaksi Formasi, yaitu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan melakukan perbuatan sebaliknya atau berlawanan dengan kondisi saat mengalami stress (dalam masalah), misalnya : perasaan cinta diganti dengan perasaan benci.
f.       Sublimasi, yaitu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara melakukan perbuatan yang bersifat positif ataupun melakukan perbuatan sosial.
g.      Displacement, merupakan perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan mngalihkan ke perbuatan negatif.

Jenis-jenis Terapi dalam Terapi Psikoanalisis
1.      Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu yang kemudian dikenal dengan katarsis.
Dalam asosiasi bebas, pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dikemukakan termasuk yang tadinya ditekan di bawah sadarnya tanpa dihambat atau dikritik. Namun timbul masalah lain karena dalam kenyataannya tidak semudah yang disangka, sehubungan dengan adanya rasa bersalah dan mekanisme pertahanan diri yang tentunya bisa menghambat pelaksanaan asosiasi bebas (Gunarsa, 2001).

2.      Penafsiran (Interpretasi)
Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resitensi dan transferensi. Caranya dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.

3.      Analisis Mimpi
Analisis tentang mimpi-mimpi bukanlah suatu metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas. Freud merumuskan teori terkenal yang menyatakan bahwa mimpi mengungkapkan kegiatan dan isi paling primitive dari jiwa manusia (Supratiknya, 1993). Proses primitive yang menghasilkan mimpi oleh Freud disebut proses primer.
Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpress akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.
Mimpi memiliki 2 (dua) taraf, yaitu :
1)      Isi laten → terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes.
2)      Isi manifes → impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya.
Sementara, tugas terapis mengungkapkan makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari symbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung.

4.      Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpress tersebut.

5.      Analisis Transferensi
Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis. Transference dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang (Gunarsa, 2001). Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orang tua kepada terapis. Dalam keadaaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orang tuanya.
Melalui cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman masa lalu terhadap kehidupannya saat ini.

Kelebihan Terapi Psikoanalisis
Adapun kelebihan dari terapi psikoanalisis, diantaranya :
  1. Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.
  2. Dengan terapi ini, terapis dapat lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
  3. Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.

Kelemahan Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis tak luput dari beberapa kelemahan, diantaranya :
a.       Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang.
b.      Memakan banyak biaya bagi klien.
c.       Klien bisa jenuh karena waktu yang lama.
d.      Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi ini.

Sumber :

Gunarsa, Prof. Dr. Singgih D. 2002. Konseling dan Terapi. Gunung Mulia: Jakarta.
Suryabrata, Sumadi. 1995. Psikologi Kepribadian. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
Supratiknya, A. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis) Kanisius: Yogyakarta.
Hartosujono. Diktat Psikologi. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa: Yogyakarta.
http://sandri09a.blogspot.com/2012/03/terapi-psikoanalisis-psikoterapi.html?m=1