Psikoanalisis adalah suatu system dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan tersebut sebagian disadari dan sebagian lagi, bahkan sebagian besar tidak disadari.
Arlow (dalam Gunarsa, 2001) mengatakan bahwa, psikoanalisis adalah system dalam psikologi yang lengkap dan luas. Meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar, dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam kehidupan pribadi maupun kelompok.
Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud (dalam Gunarsa, 2001) bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil.
Konsep Utama Terapi Psikoanalisis
Adapun konsep utama dari terapi psikoanalisis, yakni :
1. Struktur Kepribadian
a. Id
Id merupakan aspek biologis dan system yang original di dalam kepribadian, serta dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud (dalam Suryabrata, 1995) menyebutnya juga dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya (The true psychic reality). Id juga merupakan “reservoir” energy psikis yang menggerakkan ego dan super ego. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink. Fungsi Id ialah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan. Hal tersebut menjadi pedoman yang disebut Freud dengan “prinsip kenikmatan” (Suryabrata, 1995).
Id mempunyai dua cara (alat proses), yaitu :
1) Reflex dan reaksi-reaksi otomatis, seperti : bersin, berkedip, dan lain-lain.
2) Proses primer (primair Vorgang), seperti : orang yang lapar akan membayangkan makanan.
b. Ego
Ego disebut juga dengan system der Bewussten-Vorbewussen. Aspek ini adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realita). Dalam berfungsinya, ego berpegang pada “prinsip kenyataan” atau “prinsip realitas” dan bereaksi dengan proses sekunder (proses berfikir realistis). Tujuan prinsip realitas tersebut ialah mencari objek yang tepat (serasi) untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme.
Ego dipandang pula sebagai aspek eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta mencari cara-cara memenuhinya.
c. Super ego
Super ego adalah aspek sosiologi kepribadian. Superego merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya. Fungsi yang pokok dari super ego ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat (Suryabrata, 1995).
2. Pandangan Tentang Sifat Manusia
Pandangan Freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic (tidak mampu memahami dan mengontrol), mekanistik dan reduksionistik.
3. Kesadaran dan Ketidaksadaran
a. Konsep Ketidaksadaran
Ø Mimpi-mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan-kebutuhan, hasrat-hasrat konflik
Ø salah ucap / lupa → terhadap nama yang dikenal
Ø sugesti pascahipnotik
Ø informasi yang berasal dari teknik-teknik asosiasi bebas
Ø informasi yang berasal dari teknik proyektif
4. Kecemasan
Kecemasan adalah suatu keadaan yang memotifasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya untuk memperingatkan adanya ancaman bahaya, serta sebagai isyarat bagi ego bahwa apabila tidak melakukan tindakan yang tepat, bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan (dalam bahasa jawa : kuwalahan) (Suryabrata, 1995). Freud mengemukakan terdapat 3 macam kecemasan, yaitu :
1) Kecemasan realistis, yaitu rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
2) Kecemasan neurotic, yaitu rasa takut yang muncul ketika instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman.
Kecemasan moral, yaitu rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memiliki super ego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika mereka malakukan suatu hal yang bertentangan dengan nilai moral.
5. Defence Mekanism (Mekanisme Pertahanan)
Defence Mekanism atau mekanisme pertahanan merupakan cara-cara ekstrem yang kadang-kadang terpaksa harus diambil oleh ego karena tekanan kecemasan ataupun ketakutan yang berlebihan untuk menghilangkan atau mereduksi tegangan (Suryabrata, 1995).
System kerja mekanisme pertahanan tergantung pada tingkat perkembangan dan derajat kecemasan yang dialami individu. Adapun macam-macam mekanisme pertahanan tersebut, yaitu :
a. Proyeksi, merupakan suatu tindakan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara melampiaskan keluar sentimen-sentimen dan dorongan-dorongan keluar dalam dirinya.
b. Represi, merupakan suatu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara menekan kembali keinginannya.
c. Regresi, merupakan suatu mekanisme dengan kembali ke masa-masa perkembangan yang telah dilewati sebelumnya, ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kecemasan perilaku yang muncul adalah kekanak-kanakkan atau mundur seperti masa lalu saat mengalami kenyamanan.
d. Rasionalisasi, merupakan mekanisme pertahanan diri untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara memberikan alasan-alasan yang bersifat rasional, atau mencoba memaafkan diri sendiri dan kesalahan.
e. Reaksi Formasi, yaitu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan melakukan perbuatan sebaliknya atau berlawanan dengan kondisi saat mengalami stress (dalam masalah), misalnya : perasaan cinta diganti dengan perasaan benci.
f. Sublimasi, yaitu perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan cara melakukan perbuatan yang bersifat positif ataupun melakukan perbuatan sosial.
g. Displacement, merupakan perbuatan untuk mengurangi kecemasan atau frustasi dengan mngalihkan ke perbuatan negatif.
Jenis-jenis Terapi dalam Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu yang kemudian dikenal dengan katarsis.
Dalam asosiasi bebas, pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin dikemukakan termasuk yang tadinya ditekan di bawah sadarnya tanpa dihambat atau dikritik. Namun timbul masalah lain karena dalam kenyataannya tidak semudah yang disangka, sehubungan dengan adanya rasa bersalah dan mekanisme pertahanan diri yang tentunya bisa menghambat pelaksanaan asosiasi bebas (Gunarsa, 2001).
2. Penafsiran (Interpretasi)
Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resitensi dan transferensi. Caranya dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.
3. Analisis Mimpi
Analisis tentang mimpi-mimpi bukanlah suatu metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas. Freud merumuskan teori terkenal yang menyatakan bahwa mimpi mengungkapkan kegiatan dan isi paling primitive dari jiwa manusia (Supratiknya, 1993). Proses primitive yang menghasilkan mimpi oleh Freud disebut proses primer.
Analisis mimpi adalah prosedur atau cara yang penting untuk mengungkap alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, sehingga perasaan-perasaan yang direpress akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Beberapa motivasi tidak dapat diterima oleh seseorang, sehingga akhirnya diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau disimbolkan dalam bentuk yang berbeda.
Mimpi memiliki 2 (dua) taraf, yaitu :
1) Isi laten → terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif tak sadar (yang merupakan isi laten) ditransformasikan ke dalam isi manifes.
2) Isi manifes → impian yang tampil pada si pemimpi sebagaimana adanya.
Sementara, tugas terapis mengungkapkan makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari symbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes. Dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung.
4. Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpress tersebut.
5. Analisis Transferensi
Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis. Transference dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang (Gunarsa, 2001). Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orang tua kepada terapis. Dalam keadaaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orang tuanya.
Melalui cara ini, maka diharapkan klien dapat menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi dan memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat-sifat dari fiksasi-fiksasi, konflik-konflik, serta mengatakan kepada klien suatu pemahaman masa lalu terhadap kehidupannya saat ini.
Kelebihan Terapi Psikoanalisis
Adapun kelebihan dari terapi psikoanalisis, diantaranya :
- Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat.
- Dengan terapi ini, terapis dapat lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien.
- Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya.
Kelemahan Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis tak luput dari beberapa kelemahan, diantaranya :
a. Waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang.
b. Memakan banyak biaya bagi klien.
c. Klien bisa jenuh karena waktu yang lama.
d. Diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi ini.
Sumber :
Gunarsa, Prof. Dr. Singgih D. 2002. Konseling dan Terapi. Gunung Mulia: Jakarta.
Suryabrata, Sumadi. 1995. Psikologi Kepribadian. PT RajaGrafindo Persada: Jakarta.
Supratiknya, A. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis) Kanisius: Yogyakarta.
Hartosujono. Diktat Psikologi. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa: Yogyakarta.
http://sandri09a.blogspot.com/2012/03/terapi-psikoanalisis-psikoterapi.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar